
Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 45.764,53 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.
Di Sulawesi Selatan terdapat beberapa tradisi, baju adat, dan makan tradisional yang tidak kalah menarik. Ini beberapa khas yang ada di daerahku.........
From : Klik Disini!
Sigajang
Laleng Lipa’
Biasanya
permasalahan atau pertikaian bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat. Namun
tidak untuk adat Bugis-Makassar. Permasalahan bisa jadi diselesaikan dengan
cara saling tikam antara kedua belah kubu yang bertikai, atau disebut dengan
Sigajang Laleng Lipa’.
Sigajang Laleng
Lipa’ merupakan adat Bugis-Makassar untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua
perwakilan keluarga yang bertikai menyelesaikan masalah dengan saling tikam di
dalam sebuah sarung. Penyelesaian ini kerap dilakukan jika musyawarah mufakat
tidak menemui titik terang kedua belah pihak.
Segala persoalan akan diselesaikan hanya
dalam sarung, meski nyawa taruhannya. Akan tetapi sesudahnya, masing-masing
pihak yang bertikai tidak boleh lagi menyimpan dendam dan menganggap perkara
sudah selesai.
Konon, Sigajang Laleng Lipa’ atau saling badik di dalam sarung ini banyak terjadi pada masa lalu saat sebuah keluarga merasa harga dirinya terinjak. Karena kedua keluarga merasa benar, maka diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa’.
Konon, Sigajang Laleng Lipa’ atau saling badik di dalam sarung ini banyak terjadi pada masa lalu saat sebuah keluarga merasa harga dirinya terinjak. Karena kedua keluarga merasa benar, maka diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa’.
Menurut saya,
hasil dari Sigajang Laleng Lipa kebanyakan berakhir imbang. Kalau tidak
sama-sama meninggal, keduanya sama-sama hidup. Secara harfiah memang ini duel di dalam sarung, tetapi secara filosofis
ini adalah bentuk penyelesaian perkara yang dianut masyarakat bugis Makassar
dulu.
From : Klik disini!
Pakaian Adat SulSel (Baju Bodo)
Pakaian Adat Sulawesi Selatan, Pakaian adat adalah salah satu manifestasi kebudayaan bangsa. Indonesia yang populer dengan keanekaragaman suku bangsa mempunyai beberapa puluh dan mungkin beberapa ratus pakaian adat sebagai ciri khas masing-masing suku bangsa. Baju adat Sulawesi Selatan Makasar merupakan salah satunya. Pakaian adat khas suku Makassar, suku Bugis dan suku Mandar yang terdapat di Sulawesi Selatan adalah Baju Bodo. Masyarakat Sulawesi Selatan biasa menyebutnya Bodo Gesung lantaran wujud busana ini yang mempunyai bentuk menggelembung dibagian punggung.
Bagian dari Baju Bodo yaitu blus yang dikenakan untuk busana bagian atas dan sarung untuk penutup badan bagian bawah. Ada dua model busana atas (blus), yakni Pakaian Labbu, Pakaian Bodo berlengan panjang, serta Pakaian Bodo, yakni blus yang berbentuk seperti kutang dan pakaian bungkus di bagian sarungnya.
Tata cara mengenakan pakaian pada orang-orang Sulawesi Selatan ditata pada sebuah kitab suci Patuntung, kitab tersebut merupakan salah satu warisan kepercayaan dinamisme dan animisme. Dulu saat Baju Bodo terbuat dari kain kasa hitam dan merah yang di rangkap dua yang dibentuk lewat cara dikanji.
Panjangnya pun dua kali lebih panjang busananya hingga menyentuh permukaan tanah, lebarnya kurang lebih satu meter. Kain tersebut lalu dilipat sesuai panjangnya, ke dua sisinya dijahit dan lubang lengan terbentuk dari sisa kain yg tidak terjahit. Untuk membuat gelembung dibagian lengan, menggunakan kain ini mesti agak disingsingkan. Dan, sarungnya dipegang dengan tangan kiri, tidak diikat di pinggang.
Ciri Baju Bodo Pakaian Adat Sulawesi Selatan Makassar ini yaitu memiliki bentuk segi empat, sisi samping pakaian atas yang dijahit, tidak berlengan, terbentuknya gelembung dibagian tubuh, tak ada sambungan jahitan dibagian bahu, terdapatnya hiasan berbentuk bulatan kepingan logam di seluruh bagian tepi, dan permukaan blus. Memakai Baju Bodo berdasarkan warna mesti mematuhi ketentuan yang terkait dengan usia penggunanya.
Wanita berusia sepuluh tahun atau lebih muda menggunakan Baju Bodo warna jingga, wanita berusia 10-14 tahun memakai Baju Bodo warna jingga dan merah darah, serta perempuan usia 17-25 tahun mengenakan Baju Bodo warna merah darah. Warna putih khusus dikenakan dukun dan para inang. Warna ungu dikenakan para janda dan hijau merupakan warna Baju Bodo teristimewa bagi wanita bangsawan.
Meskipun saat ini Baju Bodo tidak dikenakan dalam kegiatan sehari-hari, baju adat Sulawesi Selatan Makasar ini tetap dipakai sebagai pakaian pada saat pesta pernikahan atau acara tertentu atau menyambut tamu-tamu Istimewa di Makassar Sulawesi Selatan.
From : Klik disini!
Makanan Khas SulSel
Makanan, tentu saja kita butuhkan setiap harinya. Karena manusia membutuhkan makan untuk dapat bertahan hidup. Nah berikut ini saya akan Share beberapa makanan Khas Dari SULAWESI SELATAN
di antaranya:
1. Kapurung
Kapurung adalah salah satu makanan khas tradisional di Sulawesi Selatatan, khususnya masyarakat daerah Luwu (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) Makanan ini terbuat dari sari atau tepung sagu. Di daerah Maluku dikenal dengan nama Papeda. Kapurung dimasak dengan campuran ikan atau daging ayam dan aneka sayuran. Meski makanan tradisional, Kapurung mulai populer. Selain ditemukan di warung-warung khusus di Makassar juga telah masuk ke beberapa restoran, bersanding dengan makanan modern.Di daerah Luwu sendiri nama Kapurung ini sering juga di sebut Pugalu.
2. Coto Makassar
Coto Makassar atau Coto Mangkasara adalah makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan (isi perut) sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara khusus. Coto dihidangkan dalam mangkuk dan dimakan dengan ketupat dan "burasa". Saat ini Coto Mangkasara sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mulai di warung pinggir jalan hingga restoran. Dan direncanakan mulai bulan November 2008 Coto Makassar akan menjadi salah satu menu pada penerbangan domestik Garuda Indonesia dari dan ke Makassar. Makanan ini mirip dengan sop sodara.
3. Sop Konro
Sup Konro adalah masakan sup iga sapi khas Indonesia yang berasal dari tradisi Bugis dan Makassar. Sup ini biasanya dibuat dengan bahan iga sapi atau daging sapi. Masakan berkuah warna coklat kehitaman ini biasa dimakan dengan ketupat kecil yang dipotong-potong terlebih dahulu. Warna gelap ini berasal dari buah kluwek yang memang berwarna hitam. Bumbunya relatif "kuat" akibat digunakannya ketumbar.
Konro aslinya dimasak berkuah dalam bentuk sup yang kaya rempah, akan tetapi kini terdapat variasi kering yang disebut "Konro bakar" yaitu iga sapi bakar dengan bumbu khas konro.
4. Jalangkote
Jalangkote adalah kue yang bentuknya serupa dengan kue yang ada di Jakarta dan sejumlah daerah disebut pastel. Bedanya, kalau bahan kulit pastel umumnya tebal dan empuk, maka kulit jalangkote tipis. Kulit jalangkote menggunakan bahan dasar terigu, telur, santan, mentega, garam, dan bahan-bahan tambahan lainnya dan dibuat tipis. Tak hanya kulit, isinya pun beda. Kalau pastel isinya bisa macam-macam seperti cokelat, susu, kacang, ikan, dan lainnya, maka jalangkote tidak.
Secara umum, sejak dulu hingga kini,
isi jalangkote hanya terdiri atas wortel dan kentang yang
dipotong-potong bentuk dadu dalam ukuran kecil, tauge, dan soun
(laksa). Sayur-sayuran ini ditumis dengan bumbu merica, bawang putih,
bawang merah, dan bumbu lainnya. Kalaupun saat ini jalangkote mengalami
perubahan isi, itu hanya penambahan telur 1/4 atau 1/2 butir dan
daging sapi cincang. Dan Jalangkote biasanya disajikan dalam menu
berbuka puasa
5. Buras/Burasa'
Buras/Burasa' adalah
masakan khas Sulawesi Selatan. Buras mirip dengan lontong, terbuat dari
beras hanya saja bentuknya agak berbeda. Buras lebih halus dengan
balutan daun pisang muda, disajikan dengan taburan bumbu kelapa kering,
gula, garam dan cabai. kebanyakan buras banyak di jual di pasaran.
Namun, Umumnya Makanan ini disajikan pada saat-saat tertentu seperti
Acara Syukuran, Pernikahan Dan Pada suasana Lebaran.
6. Mie Titi
Mie Titi ini
adalah sejenis mie kering yang disajikan dengan kuah kental dan irisan
ayam, udang, jamur, hati dan cumi. Mirip ifumie, hanya mienya sangat
tipis. Tadinya nama mie titi ini adalah nama jenis makanan, namun
ternyata kata titi berasal dari nama panggilan pemiliknya. Mie Kering
di Makassar mulai popular sejak tahun 70-an. Diawali oleh seorang
keturunan Tionghoa bernama Ang Kho Tjao, yang kemudian menurunkan
pengetahuan memasak mie kering kepada tiga orang anaknya yaitu Hengky,
Awa dan Titi. Setelah Ang Kho Tjao meninggal dunia, usaha kedai mie
kering dilanjutkan oleh ketiga anaknya yang masing-masing membuka kedai
sendiri. Yang cukup popular di Makassar adalah kedai milik Titi,
sehingga nama mie kering ini selalu diidentikan menjadi “Mie Titi“.
7. Pisang Epe
Pisang Epe
adalah pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur
dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat. Makanan
Ini banyak di temui di sekitar Pantai Losari Makassar.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar